SEKILAS INFO
: - Tuesday, 24-11-2020
  • 2 bulan yang lalu / Selamat Datang di website informasi sekolah SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA
Wawancara Ernest Prakasa

Ernest Prakasa :

 

“Aku harus membuat film sebagus mungkin

agar penonton puas dan merasa worth it “

Ernest Prakasa adalah seorang stand up comedy-an terkenal di Indonesia. Selain menjadi seorang ‘komika’ ia juga menjadi sutradara sekalgus penulis skenario film handal. Beberapa filmnya seperti, “Cek Toko Sebelah, “Susah Sinyal, dan “Milly Mamet menjadi box office dan meraih beberapa penghargaan bergengsi.

 

MABOSA yang diwakili Ario Seto, Kanya Partha, Ananta Antariksa, dan Oviria berhasil mewawancarai Ernest Prakasa saat promosi film “Milly Mamet di Jogja City Mall beberapa waktu lalu. Simak wawancara MABOSA dengannya berikut ini !

Bagaimana kesan Kak Ernest setelah dua film sebelum “Milly Mamet” menembus lebih dari 2 juta penonton ?

Ada beban pastinya. Tetapi buat aku, itu adalah dua prestasi yang sangat membanggakan tetapi tidak pernah menjadi target dalam aku berkarya. Karena kalau kita berkarya khusunya membuat film dengan beban pikiran seperti itu jadi stres sih akhirnya. Yang terpenting adalah bagaimana caranya membuat cerita yang menurut aku pribadi bagus, dan bisa membanggakan sekaligus penonton juga dapat menikmatinya dan senang ketika nonton.

Selama ini, film-film komedi Kak Ernest Prakasa sering menjadi patokan dalam menentukan lucu atau tidaknya sebuah film komedi lainnya. Bagaimana sih cara Kak Ernest menciptakan film komedi yang berkualitas ?

Hmmm gimana ya caranya (sambil berpikir). Menurut aku, setiap orang punya selera yang berbeda-beda terhadap komedi. Tetapi, kalau cara aku adalah bagaimana caranya harus dapat menyeimbangkan antara drama dan komedi di dalam sebuah film, khususnya film komedi. Dalam proses menulis naskah, aku akan memulai membuat dari dramanya dahulu karena tulang punggung dari sebuah film ya dari drama itu sendiri. Setelah ketemu tulang punggung filmnya, barulah aku berpikir bagaimana caranya menyisipkan komedinya, mau dari karakter yang mana, situasi yang seperti apa, dan lain-lain. Lalu dalam pembuatan filmnya baru disatukan drama dan komedi itu se menarik dan senyambung mungkin. Hingga jadilah sebuah film komedi itu sendiri.

Bagaimana cara Kak Ernest Prakasa dalam mempertahankan minat penonton terhadap film-film Kak Ernest ?

Bagi aku, menonton film di bioskop adalah sebuah pengalaman bagi penonton. Seperti pengalaman “ngakak” bersama, nangis dan lain-lain. Jadi, cara agar penonton tetap antusias nonton film aku ya harus membuat film yang berkesan dan membuat penonton merasa worth it setelah menonton filmku. Karena nonton di bioskop itu mengorbankan duit, dan waktu penonton. Jadi aku harus membuat film sebagus mungkin karena paling tidak setelah mereka selesai menonton, muncul rasa puas dan merasa worth it sudah meluangkan waktu untuk menonton film aku.

Apa saja sih tantangan terberat Kak Ernest dalam menulis dan menyutradarai film Komedi ?

Tantangan terbesar adalah bagaimana bisa menciptakan suasana dan komedi yang fresh. Karena ini film keempat aku, jadi kalau enggak bisa berinovasi, berimprovisasi, dan memperbaiki diri ya apa bedanya sama film-film sebelumnya ? Untuk “Milly Mamet ini aku lebih banyak menciptakan komedi yang terjadi melalui situasi. Sedangkan film-film sebelumnya lebih banyak komedi yang tercipta melalui karakter-karakter yang bermain. Tanpa perlu situasi yang mendukung pun pasti akan tetap lucu. Di film “Milly Mamet” ini tujuan nya berbeda, di sini kita menciptakan situasi sehingga terjadilah komedi itu sendiri. Terbukti di film ini komika yang bermain lebih sedikit dibanding film-film sebelumnya. Tetapi tetap menyenangkan dan lucu.

Apa rencana ke depan Ernest di bidang perfilman. Apakah masih menulis film komedi atau lainnya ?

Genre lain sih belum ya, tetap masih pengin bikin film drama komedi. Tapi untuk rencana ke depannya, film aku berikutnya akan diambil dari buku istriku (Meira Anastasia) yang berjudul Imperfect . Itu project aku bareng Meira untuk ditayangkan bulan Desember 2019. Untuk cerita, dan lain masih sedang proses pembuatan dan pengembangan bersama.

Apa pesan yang ingin Kak Ernest sampaikan melalui film “Milly Mamet ini ?

Pesannya  adalah, aku kepengin ngasih gambaran untuk anak muda yang belum menikah tentang gambaran kehidupan setelah pernikahan yang tidak selalu indah seperti di dongeng-dongeng. Maksudnya adalah pernikahan itu tidak semudah dan tidak selalu berada di atas namun juga di bawah. Di film ini aku menyajikan konflik mulai dari yang paling ringan dan sering muncul sehari-hari hingga konflik yang berat seperti ego,idealisme,dan lain-lain. Jadi, di film ini aku memberikan sedikit perspektif pernikahan kepada anak-anak muda.

Apa yang ingin Kak Ernest sampaikan kepada anak BOSA yang ingin menjadi film maker ?

Kalau kamu ingin serius di dunia perfilman mulai bikinlah. Mulai dari film pendek, sinematografi dan lain-lain. Bikin aja dulu, jangan kebanyakan mikir bagus atau enggak nya. Tuangkan saja jangan biarkan idemu itu menguap tanpa hasil. Kumpulin teman-teman yang tertarik dan bagi tugas, mulai dari penulis, sutradara, kameramen, editor dan lain-lain. Bikin dari yang simpel-simpel dulu aja. Kalau udah bisa bikin yang agak bagus ikutlah lomba dan kompetisi-kompetisi film yang ada untuk mengasah kemampuan dan menjadi tolok ukur bagi kita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda

Maps Sekolah