SEKILAS INFO
: - Monday, 30-11-2020
  • 2 bulan yang lalu / Selamat Datang di website informasi sekolah SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA
Harmonisasi Gereja dan Pendidikan

Harmonisasi Gereja dan Pendidikan

Oleh : Dra Magdalena Sri Pratiwi, M.M.*)

 

Gereja dan seluruh orang beriman mengemban tugas panggilan untuk menjadi berkat bagi banyak orang, atau dalam arti yang lebih luas, dipanggil untuk memelihara kehidupan karunia Allah. Keselamatan karunia Allah tidak lain adalah dipulihkannya kehidupan yang sesungguhnya yaitu kehidupan damai sejahtera dalam keterhubungan dengan Allah secara benar.

Dalam posisi demikian, gereja mempunyai tanggung jawab besar untuk ikut serta membangun dan membenahi dunia. Itu artinya,  gereja ikut bertanggung jawab atas kehidupan bangsanya. Gereja tidak mungkin memalingkan muka dari keprihatinan dunia (masyarakat dan bangsanya). Panggilan untuk menjadi berkat atau menghadirkan keselamatan ini harus dijabarkan dalam seluruh segi kehidupan, termasuk kehidupan umat manusia yang kini mulai memasuki era kesejagatan.

Untuk melaksanakan tugas-panggilannya di masa kini, mau tidak mau, gereja harus menyadari realitas masyarakat yang dihadapinya. Pada satu pihak, gereja diperhadapkan pada berbagai sisi dan dimensi globalisasi. Namun pada pihak lain, masyarakat konkret yang menjadi sasaran pelayanannya adalah masyarakat lokal dengan segala kekhasannya. Dalam rangka menjadi berkat bagi banyak orang, gereja harus mampu menemukan perpaduan yang harmonis.

Dalam kondisi seperti itu bermacam tantangan membentang di hadapan kita. Mengantisipasi tantangan-tantangan tersebut secara tepat akan terkait erat dengan tugas-tugas pembinaan yang harus dilakukan oleh gereja terhadap warganya. Bahkan boleh dikatakan, inti tugas pembinaan adalah menyadarkan warga gereja/jemaat agar siap menghadapi segala tantangan dengan keputusan yang tepat disertai sikap iman yang benar. Itu berarti, gereja harus senantiasa mencermati perkembangan masyarakat dengan sungguh-sungguh. Gereja tidak mungkin lagi berat sebelah, hanya memperhatikan urusan-urusan yang bernilai ‘rohani’ dan mengabaikan realitas kehidupan masyarakat (dunia) di sekitarnya.

Dalam arti luas, pembinaan merupakan upaya yang bertujuan mengembalikan manusia kepada kemanusiaannya seutuhnya, yaitu sebagai citra Allah yang berada dalam relasi dengan-Nya sehingga melalui keunikan masing-masing, setiap individu mampu mencerminkan kemuliaan Allah secara bertanggung jawab. Melaksanakan pembinaan mencakup pula aktivitas mendidik manusia seutuhnya.

Jadi jelas, gereja memiliki tanggung jawab di bidang pendidikan. Hal ini tentu tidak terlepas dari kerangka tugas dan panggilannya untuk memelihara kehidupan serta untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Ranah tanggung jawabnya bukan hanya di bidang ‘rohani’, melainkan seutuh kehidupan manusia, yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemberi kehidupan itu. Oleh sebab itu, wajar, bahkan seharusnya, gereja memberi perhatian lebih serius pada masalah pendidikan, baik untuk warganya, maupun untuk masyarakat secara keseluruhan.

Pendidikan  merupakan salah satu tugas panggilan yang melekat pada hakikat (inherent), baik bagi setiap orang tua, maupun bagi persekutuan orang percaya secara institusional. Tugas panggilan gereja di bidang pendidikan antara lain dilaksanakan melalui sekolah-sekolah Kristen. Di sinilah sekolah-sekolah Kristen harus ditempatkan dalam kerangka misi gereja untuk mewujudnyatakan panggilannya memelihara kehidupan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Dewasa ini, hubungan tanggung jawab timbal balik antara gereja dengan sekolah kristen sering kali tidak tampak.

 

Parade Pujian

Dalam rangka menindaklanjuti harmonisasi gereja dengan pendidikan, ada satu langkah yang diambil oleh gereja (dalam hal ini Klasis Yogyakarta Utara/Klayut). Klayut melalui komisi Warga Dewasa, mengadakan Parade Pujian yang diikuti 11 Gereja  di SMA BOPKRI I Yogyakarta pada hari Sabtu 5 Oktober 2019 sore. Pelaksanaan kegiatan ini dibarengkan dengan kegiatan sekolah dalam melatih kewirausahaan bagi peserta didik.

Dua hal yang berbeda, namun dilaksanakan secara sinergis. Pada satu sisi, Parade Pujian bukan saja memiliki makna religius untuk memuji Tuhan, melainkan juga bermanfaat sebagai ajang ekspresi seni (dalam hal ini seni suara). Seni berkaitan dengan perasaan dan penghayatan. Seni berkaitan dengan sisi batiniah manusia. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika dikatakan seni berfungsi memperhalus karakter manusia. Pada sisi lain, kewirausahaan lebih berkenaan dengan upaya produktif untuk mencukupkan kebutuhan hidup secara material. Berwirausaha memerlukan daya juang, ketangguhan, kesabaran, dan semangat pantang menyerah.

Gabungan keduanya (berkesenian dan berkewirausahaan) diharapkan mampu membentuk generasi yang tangguh dalam berjuang untuk menggapai kesejahteraan hidup namun sekaligus generasi yang memiliki kepekaan rasa terhadap nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Generasi yang demikian tidak hanya memusatkan perhatian kepada hal-hal yang bersifat material, namun juga menaruh perhatian terhadap aspek kerohanian, yang menjunjung tinggi kebenaran.

 

Paduan Harmonis

Di sinilah kita melihat perpaduan harmonis antara aktivitas gerejawi dengan aktivitas pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Kristen. Kedua aktivitas tersebut merupakan pewujudnyataan panggilan yang sama, yaitu untuk menghadirkan damai sejahtera Allah bagi banyak orang, melalui upaya membentuk manusia seutuhnya, baik secara rohani maupun jasmani. Hanya saja, masing-masing aktivitas memiliki tekanannya sendiri-sendiri. Aktivitas gerejawi lebih ditekankan pada aspek pembinaan kerohanian, namun tanpa menafikan pentingnya pendidikan dalam arti seluas-luasnya; sebaliknya, aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan lebih ditekankan pada aspek pembekalan naradidik dengan ilmu pengetahuan untuk menghadapi kehidupan real di dunia ini, namun tanpa mengabaikan pentingnya pembentukan karakter religius.

Dengan demikian, sudah selayaknya lembaga gerejawi dan lembaga pendidikan Kristen (yang merupakan kepanjangan tangan gereja di bidang pelayanan pendidikan), berjalan seiring, saling menopang, saling melengkapi, dan saling peduli satu sama lain. Gereja tidak mungkin tanpa kepedulian terhadap sekolah-sekolah Kristen. Sebaliknya, sekolah-sekolah Kristen tidak semestinya menafikan dan mengesampingkan gereja, karena pada hakikatnya, mereka adalah kepanjangan tangan gereja dalam menghadirkan damai sejahtera Allah bagi banyak orang, melalui pendidikan.***

*) Guru SMA BOPKRI 1 dan Aktivis Gereja    

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda

Maps Sekolah