image

Catra: Masa SMA Harus Punya Karya

Masa putih abu-abu identik sekali dengan fase remaja yang amat menyenangkan. Begitu banyak hal yang terjadi dan dirindukan oleh banyak orang di masa SMA saat dewasa. Oleh karenanya, masa ini bisa jadi momen uang tepat untuk membuat sebuah karya maupun berprestasi. Catra adalah salah satunya. 

Dalam istilah Catra adalah sekolah setidaknya harus punya karya dan bisa membanggakan orang lain. Begitulah ia menyebut hal yang dilakukannya. Perlahan tapi pasti, salah satu tulisannya berhasil masuk dalam antologi essai yang diterbitkan oleh kementerian pendidikan. 

"Jadi itu antologi essai yang dibikin dalam rangka bulan bahasa. Tulisanku itu kurang lebih menyinggung soal manusia dan budaya: perkembangan manusia dalam kebudayaan. Itu dalam rangka bulan bahasa yang diadakan sama bengkel bahasa dan sastra Indonesia. Aku diminta sama pak Nico, guru bahasa Indonesia Bosa untuk mewakili sekolah," kenangnya. 

Ia pun menceritakan detailnya bagaimana bisa mengikuti kegiatan tersebut. Dari dua jenis opsi tulisan yang ditawarkan, pilihannya jatuh pada pembuatan essai. Kegiatan itu diikuti oleh berbagai siswa dari banyak sekolah di Yogyakarta. 

"Kelas essai jumlahnya ada 25 orang masing-masing dari sekolah berbeda. Kegiatan itu untuk menyusun opini membangun berani, itu juga slogannya. Awal pembelajaran itu pengenalan tentang essai dan cara menulis essai. Setiap individu diminta nyari tema untuk dituliskan lalu jadi essai. Temanya bebas, nanti begitu selesai, tulisan-tulisan itu dibukukan oleh pihak sana (kementerian pendidikan)," ungkapnya. 

Ia mengaku mulanya yak menyangka bisa mengikuti kegiatan tersebut karena memang terkait basic kepenulisan yang menurutnya biasa. Ia hanya menekuni tersebut sebagai sebuah kegiatan saja. 

"Yang aku tuliskan itu adalah sesuatu yang benar-benar memprihatinkanku. Karena selama mengembara dan mengamati manusia dari titik mana pun, aku banyak berjumpa dengan berbagai potret realitas yang menggeser dan mengancam nilai-nilai manusia di kehidupan ini. Sebenernya lapanganku bergerak bisa di mana. Tapi kalau dikhususkan (minat), ya di kesusasteraan," kata Catra. 

Saat ditanya mengenai perasaannya saat bisa terlibat dalam menyumbang tulisan, ia mengatakan bahwa yang dilakukan olehnya adalah salah satu bagian dari upaya untuk membanggakan orang tua. 

"Tulisanku itu semua aku gunakan untuk nyenengin orang-orang khususnya ortu. Aku pribadi biasa aja si. Ya paling bersyukur bisa nyumbang nama ke kantor guru," ujarnya. 

Ibaratnya sudah dibiayai sekolah oleh orang tua, ia harus membuat suatu karya yang bisa dibanggakan. 

"Sekolah mahal-mahal mbok yo ada hasil, aku cuma sekedar njawab kalimat itu aja," tandasnya. 

Catra pun membagikan motivasi uang mungkin bisa menjadi suntikan semangat bagi teman lainnya yang ingin berkarya. 

"Jangan takut memulai menulis, karena menulis adalah nyawa. Siapa tau kalau tulisan-tulisanmu ada benarnya, maka tak lain kebenaran itu bersumber dari rahasia Tuhan yang entah bagaimana nongol begitu saja," katanya.