image

Cerita Pendek : Perwira yang Tak Nyata

Dear fresbook,

Mengapa tak satupun dari mereka menghargaiku? Apa karena aku tak berparas cantik? Apa karena tubuhku yang tak indah dipandang mata? Aku juga manusia, aku punya harapan untuk dicintai dan mencintai. Haruskah aku menjadi rupawan untuk bisa dicintai?

Rembulan menghela napasnya dan mengunggah status tersebut di akun fresbook miliknya.

Di usianya yang baru menginjak 16 tahun, ia memiliki tubuh dengan tinggi 165 cm dengan berat yang hampir menyentuh 90 kg. Meski ia merupakan siswi berprestasi yang kerap memperoleh nilai tertinggi di sekolahnya, teman-temannya tetap mengejek dan mencacinya. Ia hanya berharap setitik ungkapan yang diunggahnya itu dapat menyadarkan betapa tertekannya ia karena tak seorangpun menghargainya.

Tak perlu menunggu lama, komentar mulai bermunculan.

@seojinyy : “Ya. Kau harus melakukan diet, Gajah!”

@Ohgennie : “Kecilkan dulu badanmu itu baru kami akan menghargaimu, dasar gajah buruk rupa.”

@Ardes : “ Kau sebaiknya melakukan diet, maka kau akan menjadi cantik.”

@Perwira : “Kau tidak perlu berdandan ataupun diet. Kau sudah cantik dan aku menyukaimu ^^”

Kedua mata Rembulan terbelalak membaca komentar dari akun @Perwira. Hatinya seakan dipenuhi bunga-bunga bermekaran ketika ia melihat ada seorang lelaki mendukungnya. Komentar itu perlahan membangun kembali harapan hidup Rembulan yang telah hancur. Sebuah pesan pun ia layangkan kepada pemilik akun tersebut.

@Rembulan : “Terima kasih banyak, kau sangat menghiburku J Namaku Rembulan.”

@Perwira: “Sama-sama, Rembulan^^ Namaku Perwira.. Aku kagum akan keberanian dan kegigihanmu J Tetap semangat!”

Membaca pesan balasan dari Perwira, Rembulan merasa telah merebut kembali dunianya. Sejenak ia dapat melupakan perkataan teman-temannya yang begitu menyayat hatinya, meski hanya sejenak saja.

***

            “Mbul! Tunggu aku!” Teriak Olga sembari melangkah mendekati Rembulan. Mereka pun berjalan bersama menuju ruang kelas.

            Olga adalah satu-satunya teman yang dimiliki Rembulan. Senasib dengan Rembulan, Olga juga kerap kali dicaci karena memiliki bercak putih pada kulitnya. Ya, Dia mengidap Vitiligo yang menyebabkan kulitnya berpola layaknya seekor sapi. Selain itu, ia mengalami ketulian sejak lahir. Rasa sedih kerap kali menghampirinya karena ia tak dapat mendengar suara rintik hujan atau kicauan burung di pagi hari. Namun, ia bersyukur karena tak harus mendengar ejekan dan celaan teman-temannya.

“Hei lihat! Sapi dan Gajah sudah datang!” teriak salah seorang murid kelas Olga.  

Beberapa murid lain turut berkumpul untuk mengejek Rembulan dan Olga seraya mengambil beberapa foto mereka.  Elshye, salah satu murid  tercantik di sekolah, bahkan menghadang langkah mereka.

“Hai Gajah dan Sapiku! Agak merapat dong.. mau aku foto nihhh. Smileee,” ucapnya santai.

Elshye pun mengunggah hasil fotonya ke akun fresbooknya. Rembulan tak kuasa lagi menahan air mata yang telah menggenang di ujung matanya. Ia menarik Olga dan mengajaknya berlari ke toilet.

Rembulan menumpahkan air mata yang sudah sejak tadi ia tahan, menumpahkan seluruh perasaannya pada Olga.

“Aku tak pernah berharap memiliki badan sebesar ini. Aku iri karena kau tak harus mendengar setiap ejekan dan celaan kejam itu. Aku tak pernah meminta untuk dipuji, aku hanya ingin mereka berhenti mengejek dan mencemooh aku. Kau juga begitu kan, Ol?”

Olga dapat memahami perkataan Rembulan dengan memperhatikan gerak mulutnya. “Tentu saja, Mbul. Kau harus kuat!” ucap Olga. Ia meraih pundak Rembulan dan  memeluknya

Tiba-tiba ponsel Rembulan berdering. Ia pun membuka ponselnya yang berisi notifikasi seseorang menandainya dalam komentar fresbook. Ya, orang itu tak lain adalah Perwira yang mengomentari unggahan fresbook milik Elshye.

“Kau tak sepantasnya menghina Rembulan seperti itu! Setiap orang memiliki kekurangan, kau juga pasti memiliki kekurangan yang mungkin tak kau tampakkan, misalnya dengan daya berpikir otakmu yang tak secerdas @Rembulan.”

Kedua ujung bibir Rembulan mulai terangkat. Ia merasa tersanjung dengan pembelaan yang dilakukan oleh Perwira. Perwira memang tak berada di sampingnya secara nyata, namun perkataannya, walau hanya di dunia maya sungguh mampu meluluhkan hati Rembulan. Ia sungguh berharap untuk dapat bertatap muka dengan Perwira suatu hari nanti, meski ia tak tahu apa yang terjadi ini nyata, ataukah hanya sebuah fantasi semata.

***

            Perwira semakin memberikan perhatiannya pada Rembulan, membuat hati gadis itu berbunga-bunga setiap memikirkannya.

Namun, bunga-bunga itu seakan hancur ketika Perwira mulai berubah.

@Perwira : “Hei Gajah. Kemarin aku melihatmu di depan sekolahmu. Ternyata benar, kau harus melakukan diet. Kau jauh lebih gemuk dibandingkan dengan foto-fotomu di fresbook!”

Perkataan Perwira sungguh menyakiti hati Rembulan.

@Rembulan : “Mengapa kau mengatakannya? Kupikir kau selalu mendukungku.”

@Perwira : “Hei santai saja! Memang benar dulu aku berkata bahwa aku akan selalu mendukungmu. Tapi itu sebelum aku mengetahui betapa gemuknya dirimu.”

@Rembulan : “Baiklah. Aku akan melakukan diet. Diet ekstrem hingga  aku tak perduli jika aku harus dirawat di rumah sakit.”

@Perwira : “Ya, lakukanlah. Jika kau harus dirawat di rumah sakit, atau bahkan mati karena dietmu itu jangan salahkan aku. Sejujurnya dunia ini memang lebih indah tanpa kehadiranmu.”

@Rembulan : “Hei, jaga ucapanmu! Baiklah jika begitu, temui aku di café dekat sekolahku minggu depan pukul 4 sore.”

Rembulan bertekad melakukan diet ekstrem kali ini. Ia bertekad untuk tidak memakan sebutir nasi sekalipun selama setidaknya seminggu ke depan. Ketika ia bertemu dengan Perwira, berat badannya harus sudah berkurang agar Perwira tak lagi mengejeknya.

***

Hari yang ditunggu-tunggu oleh Rembulan tiba. Ia hanya bisa menurunkan 2 kg berat badannya, padahal ia tak memakan apapun selama seminggu penuh hingga tubuhnya lemas dan tak bertenaga. Ia datang ke café dekat sekolahnya, duduk dan menanti kedatangan Perwira.

Dari kejauhan, tampak seorang gadis sedang berjalan mendekati café itu. Rembulan menyipitkan kedua matanya dan berusaha melihat wanita itu. Elshye!

Elshye membuka pintu dan memasuki café. Betapa paniknya Rembulan ketika Elshye berjalan ke arah mejanya dan menyapa, “Hei Gajah! Kau pasti sedang menunggu seseorang?”

Rembulan menjawab dengan kesal, “Aku ini manusia, bukan Gajah! Ya aku sedang menunggu seseorang di sini. Aku sedang menunggu kekasih hatiku, Perwira.”

“BINGO! Kau sedang menatapnya sekarang.” Ucap Elshye dengan nada mengejek.

            Rembulan berusaha mencerna kata-kata yang dikeluarkan oleh Elshye.

            “Apa kau adalah….. Perwira?” Tanya Rembulan dengan nada gemetar.

            “Tepat sekali. Kau pikir siapa pria yang mau mendekatimu?  Tak usah berharap berlebihan atau kau akan sakit seperti sekarang ini, bodoh. Atau harus kupanggil kau pintar? Karena kau memang lebih pintar dariku! Karena kau, aku tak pernah sekalipun mendapat peringkat 1, ibuku bahkan tak bangga padaku dan tak pernah memperhatikanku karena ia menganggapku sebagai anak bodoh. Semua karena kau, aku membencimu!”

            “Teganya kau Elshye! Jika kau ingin mengalahkanku, kau harus lebih giat belajar, bukannya membullyku melalui akun palsu di media sosial. Kau bahkan tak menyadari berapa kali kau hampir membuatku menggantung diriku sendiri?! Kau sungguh kejam. Kau ingin membunuh seseorang hanya karena iri hatimu itu?” Rembulan membalas Elshye dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya dan pergi.

            Deg. Perkataan balasan dari Rembulan itu tepat mengenai hati Elshye.

            Rembulan berjalan cepat dan mencegat taksi untuk kembali ke rumahnya. Air matanya tak berhenti mengalir setelah mengetahui bahwa dirinya ditipu oleh Perwira yang sebenarnya adalah Elshye. Harapannya hancur. Perwira tak nyata.

            Rembulan hanya mengurung diri di kamarnya berhari-hari, menangis hingga air matanya mengering. Untuk ke sekian kalinya, terlintas di pikirannya untuk mengakhiri hidupnya.

            Tok tok. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Rembulan mengusap air matanya dan membuka pintu itu. Nampak Ibu menemani Elshye yang sedang berdiri dengan wajah penuh rasa bersalah. Elshyepun bersimpuh di bawah kaki Rembulan.

            “Rembulan… kumohon, maafkan aku. Rasa iri yang membara telah membutakan mataku. Aku dan teman-teman berjanji tak akan lagi mengganggumu maupun Olga. Kau mau memaafkanku kan?”

            Kedua mata Rembulan mulai berkaca-kaca mendengar permintaan maaf Elshye. Ia menarik Elshye untuk memberdirikannya, meraih pundaknya, dan memeluknya erat. “Semua perbuatanmu memang sungguh menyakiti hatiku, tapi aku tak mau hidup berlarut-larut dalam dendam dan kebencian. Jika kau benar-benar meminta maaf dan menepati janji, maka aku memaafkanmu.”

            Mereka berpelukan semakin erat dan tersenyum satu sama lain.

             “Jangan lagi ada pembullyan baik di media sosial maupun secara nyata. Hidup akan indah bila kita hidup dalam kesatuan.” Ucap Ibu.

            Kedua gadis itupun serempak menjawab dengan wajah penuh tawa dan haru, “Siap komandan!!!”

Artikel Terkait